Jika kata kehilangan makna.
Apa yang bisa 'ku tuliskan untukmu?
Jika cinta kehilangan rindu.
Bagaimana 'ku bisa menjagamu?
Jika hidup kehilangan nyawa.
Yakin, 'ku pasrahkan segalaku untukmu.
Jangan mati sebelum aku, berjanjilah.
Jika itu satu permintaanku. Penuhilah.
Hidup ini terlalu indah jika digunakan hanya untuk merenung. Namun , tidaklah buruk menghabiskan semenit-dua menit waktu untuk memikirkan eksistensi diri di dunia.
Sabtu, 29 Desember 2012
"hidup"
Tiga bulan terlewati sudah
telah aku lalui babak baru
selama itu pula
aku belum memahami apa itu arti dari "hidup"
"hidup"
mungkin hanyalah sebatas mengembara
tanpa tahu apa yang harus ditemukan
apakah Tuhan yang harus dicari?
Justru diri ini yang harus dikenali
Kenal diri, kenal Tuhan
Itukah jatidiri?
tapi aku masih mamang
bagaimana aku harus mengenaliku
telah aku lalui babak baru
selama itu pula
aku belum memahami apa itu arti dari "hidup"
"hidup"
mungkin hanyalah sebatas mengembara
tanpa tahu apa yang harus ditemukan
apakah Tuhan yang harus dicari?
Justru diri ini yang harus dikenali
Kenal diri, kenal Tuhan
Itukah jatidiri?
tapi aku masih mamang
bagaimana aku harus mengenaliku
Rabu, 19 Desember 2012
19-12-2012
19/12/2012//
Kukirimkan pesan/ untukmu,
"
Rasulullah bersabda,"Hendaklah kamu tidur sehingga hilang rasa mengantuk."(Bukhari-Muslim)
"Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, hendaklah kamu mengambil wuduk seperti wuduk untuk sembahyang. Kemudian baringlah di sebelah kanan."(Bukhari-Muslim)
Met tidur,,, nice dreams,,,
:) :) :)
"
Dan/ aku hanya bisa berharap// semoga/
kamu/ tidur nyenyak// di malamku penuh mendung ini//
Esok pagi /masih menanti/ kehadiranmu//
begitupun/ aku//
menantimu/ membuka hatimu untukku//
Kukirimkan pesan/ untukmu,
"
Rasulullah bersabda,"Hendaklah kamu tidur sehingga hilang rasa mengantuk."(Bukhari-Muslim)
"Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, hendaklah kamu mengambil wuduk seperti wuduk untuk sembahyang. Kemudian baringlah di sebelah kanan."(Bukhari-Muslim)
Met tidur,,, nice dreams,,,
:) :) :)
"
Dan/ aku hanya bisa berharap// semoga/
kamu/ tidur nyenyak// di malamku penuh mendung ini//
Esok pagi /masih menanti/ kehadiranmu//
begitupun/ aku//
menantimu/ membuka hatimu untukku//
Sabtu, 15 Desember 2012
Tiba-tiba Merenung
malam/ menggiringku kembali// untuk merenungi/
hal yang/ harusnya tak/ kurenungkan//
andaikan malam ini/ bukanlah yang/ seharusnya seperti ini//
terpaksa aku/ harus berdiam//
berkelana kembali//
berharap/ bukan setan/ atau iblis/ yang menjaga ragaku//
remahan pasir/ ya//
itulah// hakikatnya diri/ ku//
itulah mengapa/ betapa sulit// sungguh//
menggapai cintaMu//
semestinyalah//
andaikan Majnun ada/ untuk membimbingku//
pastinya/ ia pun menolaknya//
Engkau/ Yang/ Maha/ Tahu// atas segalanya//
hal yang/ harusnya tak/ kurenungkan//
andaikan malam ini/ bukanlah yang/ seharusnya seperti ini//
terpaksa aku/ harus berdiam//
berkelana kembali//
berharap/ bukan setan/ atau iblis/ yang menjaga ragaku//
remahan pasir/ ya//
itulah// hakikatnya diri/ ku//
itulah mengapa/ betapa sulit// sungguh//
menggapai cintaMu//
semestinyalah//
andaikan Majnun ada/ untuk membimbingku//
pastinya/ ia pun menolaknya//
Engkau/ Yang/ Maha/ Tahu// atas segalanya//
Rabu, 05 Desember 2012
PERHATIKANLAH
Hal - hal kecil yang jarang diperhatikan/ perhatikanlah//
Tiap yang mungkin luput dari pandangannya/ perhatikanlah//
Perhatikanlah//
Sekecil apapun itu//
Sekecil itu pun/ mungkin dia tunggu//
Sejalan dengan waktu/ perhatikanlah//
Perhatikanlah//
Keyakinanmu akanNya//
Perhatikanlah/ Yang Maha Cinta//
Sejalan dengan bertumbuhnya rumput di halaman/
perhatikanlah/ garis itu akan terkoyak//
Batas itu akan runtuh/
belenggu itu pasti pudar//
Perhatikanlah//
Perhatikanlah/ saat itu tiba/ kaulah penguasa relungnya//
Sedang dia/ masih milikNya//
Tiap yang mungkin luput dari pandangannya/ perhatikanlah//
Perhatikanlah//
Sekecil apapun itu//
Sekecil itu pun/ mungkin dia tunggu//
Sejalan dengan waktu/ perhatikanlah//
Perhatikanlah//
Keyakinanmu akanNya//
Perhatikanlah/ Yang Maha Cinta//
Sejalan dengan bertumbuhnya rumput di halaman/
perhatikanlah/ garis itu akan terkoyak//
Batas itu akan runtuh/
belenggu itu pasti pudar//
Perhatikanlah//
Perhatikanlah/ saat itu tiba/ kaulah penguasa relungnya//
Sedang dia/ masih milikNya//
Minggu, 02 Desember 2012
RENUNGAN 2 DESEMBER 2012
Mencoba melewati mendung/ bukan sebagai bukti akan kejantanan?//
Melompat ke sekumpulan bara api panas/ tak dapatlah pula sebagai bukti/ akan adanya keberanian?//
Pengakuan/ bukanlah yang dicari//
Kepuasan/ bukan yang diinginkan//
Hanyalah sebuah kenikmatankah?// Bukan pula//
Atau sebuah tuntutan?// Tuntutan itu datang dari mana?//
Jika ada yang bertanya/ kamu gilakah?// Aku sehat saja//
Dalam kata "saja"/ mungkin terkandung ketidakwarasan//
Namun/ dalam keterjunanku ke alam mendung ini/ aku merenung//
Mungkin aku telah salah// Aku telah lupa//
Bahwa puisi bukanlah satu-satunya//
Tapi aku tidak bisa//
Aku tidak bisa menghentikan jemariku memegang pena//
Aku tak kuasa menahan gejolak yang membuncah/ membikin pecah kepala//
Seharusnya aku tidak hidup di masa kini//
Aku hanya bisa berdialog denganku sendiri//
Aku hanya bisa memaksa tanganku/ menjumput pena dan secarik kertas//
Melompat ke sekumpulan bara api panas/ tak dapatlah pula sebagai bukti/ akan adanya keberanian?//
Pengakuan/ bukanlah yang dicari//
Kepuasan/ bukan yang diinginkan//
Hanyalah sebuah kenikmatankah?// Bukan pula//
Atau sebuah tuntutan?// Tuntutan itu datang dari mana?//
Jika ada yang bertanya/ kamu gilakah?// Aku sehat saja//
Dalam kata "saja"/ mungkin terkandung ketidakwarasan//
Namun/ dalam keterjunanku ke alam mendung ini/ aku merenung//
Mungkin aku telah salah// Aku telah lupa//
Bahwa puisi bukanlah satu-satunya//
Tapi aku tidak bisa//
Aku tidak bisa menghentikan jemariku memegang pena//
Aku tak kuasa menahan gejolak yang membuncah/ membikin pecah kepala//
Seharusnya aku tidak hidup di masa kini//
Aku hanya bisa berdialog denganku sendiri//
Aku hanya bisa memaksa tanganku/ menjumput pena dan secarik kertas//
Kamis, 16 Februari 2012
Hukum
oleh: Chairil Anwar
Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu
Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.
Bungkuk jalannya - Lesu
Pucat mukanya - Lesu
Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa
Melecut supaya terus ini padanya
Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga
Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti!
Maret 1943
Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu
Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.
Bungkuk jalannya - Lesu
Pucat mukanya - Lesu
Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa
Melecut supaya terus ini padanya
Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga
Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti!
Maret 1943
Aku*
oleh: Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang perih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
_________________________________
*Versi Deru Campur Deru (Editor).
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang perih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
_________________________________
*Versi Deru Campur Deru (Editor).
Kepada Peminta-Minta
oleh: Chairil Anwar
Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.
Juni 1943
Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.
Juni 1943
Ajakan
oleh: Chairil Anwar
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang lengang lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
Februari 1943
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang lengang lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
Februari 1943
Suara Malam
oleh: Chairil Anwar
Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan "Kebakaran di Hutan"*
Jadi ke mana
Untuk damai dan reda?
Mati.
Barang kali ini diam kaku saja
dengan ketenangan selama bersatu
mengatasi suka dan duka
kekebalan terhadap debu dan nafsu
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di dasar lautan
jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam Tiada
dan sekali akan menghadap cahaya.
.......................................
Ya Allah! Badanku terbakar --- segala samar.
Aku sudah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.
Februari,1943
________________
*Ciptaan alm.R.Saleh.
Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan "Kebakaran di Hutan"*
Jadi ke mana
Untuk damai dan reda?
Mati.
Barang kali ini diam kaku saja
dengan ketenangan selama bersatu
mengatasi suka dan duka
kekebalan terhadap debu dan nafsu
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di dasar lautan
jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam Tiada
dan sekali akan menghadap cahaya.
.......................................
Ya Allah! Badanku terbakar --- segala samar.
Aku sudah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.
Februari,1943
________________
*Ciptaan alm.R.Saleh.
Sendiri
oleh: Chairil Anwar
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Februari,1943
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Februari,1943
Diponegoro
oleh: Chairil Anwar
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.
Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.
Februari,1943
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.
Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.
Februari,1943
Rumahku
oleh: Chairil Anwar
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.
27 April 1943
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.
27 April 1943
Jangan Kita Di Sini Berhenti*
oleh: Chairil Anwar
Jangan kita di sini berhenti
Tuaknya tua, sedikit pula
Sedang kita mau berkendi-kendi
Terus, terus dulu...!!
Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris
Pelayannya kita dilayani gadis-gadis
O, bibir merah, selokan mati pertama
O, hidup, kau masih ketawa??
24 Juli 1943
_________________
* Judul sajak ini berasal dari Editor buku; semula sajak ini tanpa Judul (Editor).
Jangan kita di sini berhenti
Tuaknya tua, sedikit pula
Sedang kita mau berkendi-kendi
Terus, terus dulu...!!
Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris
Pelayannya kita dilayani gadis-gadis
O, bibir merah, selokan mati pertama
O, hidup, kau masih ketawa??
24 Juli 1943
_________________
* Judul sajak ini berasal dari Editor buku; semula sajak ini tanpa Judul (Editor).
Kita Guyah Lemah*
oleh: Chairil Anwar
Kita guyah lemah
Sekali tetak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian
Mari tegak merentak
Dari-sekeliling kita bentak
Ini malam purnama akan menembus awan
22 Juli 1943
____________________
* Judul sajak ini berasal dari Editor buku; semula sajak ini tanpa Judul (Editor).
Kita guyah lemah
Sekali tetak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian
Mari tegak merentak
Dari-sekeliling kita bentak
Ini malam purnama akan menembus awan
22 Juli 1943
____________________
* Judul sajak ini berasal dari Editor buku; semula sajak ini tanpa Judul (Editor).
Kenangan
oleh: Chairil Anwar
untuk Karinah Moordjono
Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! tercebar rasanya diri
Membubung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia
19 April 1943
untuk Karinah Moordjono
Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! tercebar rasanya diri
Membubung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia
19 April 1943
Perhitungan
oleh: Chairil Anwar
Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih-cerah dan purnama raya...
Sudah itu tempatku tak tentu di mana.
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi...!?
Kini aku meringkih dalam malam sunyi.
16 Maret 1943
Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih-cerah dan purnama raya...
Sudah itu tempatku tak tentu di mana.
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi...!?
Kini aku meringkih dalam malam sunyi.
16 Maret 1943
Merdeka
oleh: Chairil Anwar
Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah-kumamah
Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang
Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang
Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.
14 Juli 1943
Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah-kumamah
Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang
Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang
Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.
14 Juli 1943
Doa
oleh: Chairil Anwar
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
13 November 1943
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
13 November 1943
Dendam
oleh: Chairil Anwar
Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak
Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari
Aku mencari
Diri tercerai dari hati
Bulan bersinar sedikit tak nampak
13 Juli 1943
Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak
Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari
Aku mencari
Diri tercerai dari hati
Bulan bersinar sedikit tak nampak
13 Juli 1943
Isa
oleh: Chairil Anwar
kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?
kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
berbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara
mengatup luka
aku bersuka
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
12 November 1943
kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?
kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
berbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara
mengatup luka
aku bersuka
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
12 November 1943
Selamat Tinggal*
oleh: Chairil Anwar
Aku berkaca
Bukan buat ke pesta
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru-menderu
- dalam hatiku? -
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah...!!!
Segala mebebal, segala mengental
Segala tak kukenal...
Selamat tinggal...!!!
12 Juli 1943
_________________
* Versi Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus
Aku berkaca
Bukan buat ke pesta
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru-menderu
- dalam hatiku? -
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah...!!!
Segala mebebal, segala mengental
Segala tak kukenal...
Selamat tinggal...!!!
12 Juli 1943
_________________
* Versi Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus
Mulutmu Mencubit di Mulutku
oleh: Chairil Anwar
Mulutmu mencubit di mulutku
Menggelegak benci sejenak itu
Mengapa merihmu tak kucekik pula
Ketika halus-perih kau meluka??
12 Juli 1943
___________________________
*Judul sajak ini berasal dari Editor buku; semula sajak ini tanpa Judul (Editor).
Mulutmu mencubit di mulutku
Menggelegak benci sejenak itu
Mengapa merihmu tak kucekik pula
Ketika halus-perih kau meluka??
12 Juli 1943
___________________________
*Judul sajak ini berasal dari Editor buku; semula sajak ini tanpa Judul (Editor).
Cerita
oleh: Chairil Anwar
kepada Darmawidjaja
Di pasar baru mereka
Lalu mengada-menggaya.
Mengikat sudah kesal
Tak tahu apa dibuat
Jiwa satu teman lucu
Dalam hidup, dalam tuju.
Gundul diselimuti tebal
Sama segala berbuat-buat.
Tapi kadang pula dapat
Ini renggang terus terapat.
9 Juni 1943
kepada Darmawidjaja
Di pasar baru mereka
Lalu mengada-menggaya.
Mengikat sudah kesal
Tak tahu apa dibuat
Jiwa satu teman lucu
Dalam hidup, dalam tuju.
Gundul diselimuti tebal
Sama segala berbuat-buat.
Tapi kadang pula dapat
Ini renggang terus terapat.
9 Juni 1943
Aku
oleh: Chairil Anwar
Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak
Cumbu-buatan satu biduan
Kujauhi ahli agama serta lembing-katanya.
Aku hidup
Dalam hidup di mata tampak bergerak
Dengan cacar melebar, barah bernanah
Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam
dahaga.
8 Juni 1943
Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak
Cumbu-buatan satu biduan
Kujauhi ahli agama serta lembing-katanya.
Aku hidup
Dalam hidup di mata tampak bergerak
Dengan cacar melebar, barah bernanah
Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam
dahaga.
8 Juni 1943
Bercerai
oleh: Chairil Anwar
Kita musti bercerai
Sebelum kicau murai berderai.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Benar belum puas serah-menyerah
Darah masih berbusah-busah.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Kita musti bercerai
Biar surya ‘kan menembus oleh malam di perisai
Dua benua bakal bentur-membentur.
Merah kesumba jadi putih kapur.
Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambar
7 Juni 1943
Kita musti bercerai
Sebelum kicau murai berderai.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Benar belum puas serah-menyerah
Darah masih berbusah-busah.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Kita musti bercerai
Biar surya ‘kan menembus oleh malam di perisai
Dua benua bakal bentur-membentur.
Merah kesumba jadi putih kapur.
Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambar
7 Juni 1943
Kawanku dan Aku
oleh: Chairil Anwar
kepada L.K. Bohang
Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti
5 Juni 1943
kepada L.K. Bohang
Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti
5 Juni 1943
Taman
oleh: Chairil Anwar
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan 'nusia
Maret 1943
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan 'nusia
Maret 1943
Selasa, 31 Januari 2012
Penerimaan
oleh: Chairil Anwar
Maret 1943
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Lagu Biasa
oleh: Chairil Anwar
Maret 1943
Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.
Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari
Ketika orkes memulai "Ave Maria"
Kuseret ia ke sana....
Maret 1943
Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.
Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari
Ketika orkes memulai "Ave Maria"
Kuseret ia ke sana....
Tak Sepadan
oleh: Chairil Anwar
Februari 1943
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
Februari 1943
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
Sia-sia
oleh: Chairil Anwar (versi: Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (Editor))
Februari 1943
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Februari 1943
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Pelarian
oleh: Chairil Anwar
(Februari 1943)
I
Tak tertahan lagi
remang miang sengketa di sini
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.
Hancur-luluh sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.
II
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
"Mau apa? Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja!"
Tak kuasa---terengkam
Ia dicengkam malam.
(Februari 1943)
I
Tak tertahan lagi
remang miang sengketa di sini
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.
Hancur-luluh sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.
II
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
"Mau apa? Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja!"
Tak kuasa---terengkam
Ia dicengkam malam.
Nisan
oleh: Chairil Anwar
(Oktober 1942)
Untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.
(Oktober 1942)
Untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.
Penghidupan
oleh: Chairil Anwar
(Desember 1942)
Lautan maha dalam
mukul dentur selama
nguji tenaga pematang kita
mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
kecil setumpuk
sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
(Desember 1942)
Lautan maha dalam
mukul dentur selama
nguji tenaga pematang kita
mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
kecil setumpuk
sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
Langganan:
Komentar (Atom)