Sabtu, 29 Desember 2012

Jika 'ku

Jika kata kehilangan makna.

Apa yang bisa 'ku tuliskan untukmu?

Jika cinta kehilangan rindu.

Bagaimana 'ku bisa menjagamu?

Jika hidup kehilangan nyawa.

Yakin, 'ku pasrahkan segalaku untukmu.

Jangan mati sebelum aku, berjanjilah.

Jika itu satu permintaanku. Penuhilah.

"hidup"

Tiga bulan terlewati sudah
telah aku lalui babak baru
selama itu pula
aku belum memahami apa itu arti dari "hidup"

"hidup"
mungkin hanyalah sebatas mengembara
tanpa tahu apa yang harus ditemukan

apakah Tuhan yang harus dicari?

Justru diri ini yang harus dikenali
Kenal diri, kenal Tuhan
Itukah jatidiri?

tapi aku masih mamang
bagaimana aku harus mengenaliku

Rabu, 19 Desember 2012

19-12-2012

19/12/2012//
Kukirimkan pesan/ untukmu,
"
Rasulullah bersabda,"Hendaklah kamu tidur sehingga hilang rasa mengantuk."(Bukhari-Muslim)

"Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, hendaklah kamu mengambil wuduk seperti wuduk untuk sembahyang. Kemudian baringlah di sebelah kanan."(Bukhari-Muslim)

Met tidur,,, nice dreams,,,
:) :) :) 


"

Dan/ aku hanya bisa berharap// semoga/
kamu/ tidur nyenyak// di malamku penuh mendung ini//

Esok pagi /masih menanti/ kehadiranmu//
begitupun/ aku//
menantimu/ membuka hatimu untukku//

Sabtu, 15 Desember 2012

Tiba-tiba Merenung

malam/ menggiringku kembali// untuk merenungi/
hal yang/ harusnya tak/ kurenungkan//
andaikan malam ini/ bukanlah yang/ seharusnya seperti ini//

terpaksa aku/ harus berdiam//
berkelana kembali//
berharap/ bukan setan/ atau iblis/ yang menjaga ragaku//

remahan pasir/ ya//
itulah// hakikatnya diri/ ku//

itulah mengapa/ betapa sulit// sungguh//
menggapai cintaMu//
semestinyalah//
andaikan Majnun ada/ untuk membimbingku//
pastinya/ ia pun menolaknya//

Engkau/ Yang/ Maha/ Tahu// atas segalanya//

Rabu, 05 Desember 2012

PERHATIKANLAH

Hal - hal kecil yang jarang diperhatikan/ perhatikanlah//
Tiap yang mungkin luput dari pandangannya/ perhatikanlah//
Perhatikanlah//
Sekecil apapun itu//
Sekecil itu pun/ mungkin dia tunggu//
Sejalan dengan waktu/ perhatikanlah//

Perhatikanlah//
Keyakinanmu akanNya//
Perhatikanlah/ Yang Maha Cinta//
Sejalan dengan bertumbuhnya rumput di halaman/
perhatikanlah/ garis itu akan terkoyak//
Batas itu akan runtuh/
belenggu itu pasti pudar//
Perhatikanlah//
Perhatikanlah/ saat itu tiba/ kaulah penguasa relungnya//
Sedang dia/ masih milikNya//

Minggu, 02 Desember 2012

RENUNGAN 2 DESEMBER 2012

Mencoba melewati mendung/ bukan sebagai bukti akan kejantanan?//
Melompat ke sekumpulan bara api panas/ tak dapatlah pula sebagai bukti/ akan adanya keberanian?//
Pengakuan/ bukanlah yang dicari//
Kepuasan/ bukan yang diinginkan//
Hanyalah sebuah kenikmatankah?// Bukan pula//
Atau sebuah tuntutan?// Tuntutan itu datang dari mana?//

Jika ada yang bertanya/ kamu gilakah?// Aku sehat saja//
Dalam kata "saja"/ mungkin terkandung ketidakwarasan//
Namun/ dalam keterjunanku ke alam mendung ini/ aku merenung//
Mungkin aku telah salah// Aku telah lupa//
Bahwa puisi bukanlah satu-satunya//
Tapi aku tidak bisa//
Aku tidak bisa menghentikan jemariku memegang pena//
Aku tak kuasa menahan gejolak yang membuncah/ membikin pecah kepala//
Seharusnya aku tidak hidup di masa kini//

Aku hanya bisa berdialog denganku sendiri//
Aku hanya bisa memaksa tanganku/ menjumput pena dan secarik kertas//

Kamis, 16 Februari 2012

Hukum

oleh: Chairil Anwar


Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu

Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.

Bungkuk jalannya - Lesu
Pucat mukanya - Lesu

Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa

Melecut supaya terus ini padanya

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa

Nanti, kau dinanti-dimengerti!

Maret 1943

Aku*

oleh: Chairil Anwar


Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang perih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

_________________________________
*Versi Deru Campur Deru (Editor).

Kepada Peminta-Minta

oleh: Chairil Anwar


Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Juni 1943

Ajakan

oleh: Chairil Anwar


Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang lengang lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.

Februari 1943

Suara Malam

oleh: Chairil Anwar


Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan "Kebakaran di Hutan"*
Jadi ke mana
Untuk damai dan reda?
Mati.
Barang kali ini diam kaku saja
dengan ketenangan selama bersatu
mengatasi suka dan duka
kekebalan terhadap debu dan nafsu
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di dasar lautan
jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam Tiada
dan sekali akan menghadap cahaya.
.......................................
Ya Allah! Badanku terbakar --- segala samar.
Aku sudah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.

Februari,1943


________________
*Ciptaan alm.R.Saleh.

Sendiri

oleh: Chairil Anwar


Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

Februari,1943

Diponegoro

oleh: Chairil Anwar


Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu negeri
Menyediakan api

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.

Februari,1943

Rumahku

oleh: Chairil Anwar


Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.

27 April 1943

Jangan Kita Di Sini Berhenti*

oleh: Chairil Anwar


Jangan kita di sini berhenti
Tuaknya tua, sedikit pula
Sedang kita mau berkendi-kendi
Terus, terus dulu...!!

Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris
Pelayannya kita dilayani gadis-gadis
O, bibir merah, selokan mati pertama
O, hidup, kau masih ketawa??

24 Juli 1943

_________________
* Judul sajak ini berasal dari Editor buku; semula sajak ini tanpa Judul (Editor).

Kita Guyah Lemah*

oleh: Chairil Anwar


Kita guyah lemah
Sekali tetak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian

Mari tegak merentak
Dari-sekeliling kita bentak
Ini malam purnama akan menembus awan

22 Juli 1943

____________________
* Judul sajak ini berasal dari Editor buku; semula sajak ini tanpa Judul (Editor).

Kenangan

oleh: Chairil Anwar


untuk Karinah Moordjono

Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! tercebar rasanya diri
Membubung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia

19 April 1943

Perhitungan

oleh: Chairil Anwar


Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya

Langit bersih-cerah dan purnama raya...
Sudah itu tempatku tak tentu di mana.

Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran

Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi...!?

Kini aku meringkih dalam malam sunyi.

16 Maret 1943

Merdeka

oleh: Chairil Anwar


Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida

Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah-kumamah

Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang

Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.

14 Juli 1943

Doa

oleh: Chairil Anwar


kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

Dendam

oleh: Chairil Anwar


Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak

Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak

Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

Aku mencari
Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar sedikit tak nampak

13 Juli 1943

Isa

oleh: Chairil Anwar


kepada nasrani sejati

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

berbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara

mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

12 November 1943

Selamat Tinggal*

oleh: Chairil Anwar


Aku berkaca
Bukan buat ke pesta

Ini muka penuh luka
Siapa punya?

Kudengar seru-menderu
- dalam hatiku? -
Apa hanya angin lalu?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Ah...!!!

Segala mebebal, segala mengental
Segala tak kukenal...

Selamat tinggal...!!!

12 Juli 1943

_________________
* Versi Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus

Mulutmu Mencubit di Mulutku

oleh: Chairil Anwar


Mulutmu mencubit di mulutku
Menggelegak benci sejenak itu
Mengapa merihmu tak kucekik pula
Ketika halus-perih kau meluka??

12 Juli 1943

___________________________
*Judul sajak ini berasal dari Editor buku; semula sajak ini tanpa Judul (Editor).

Cerita

oleh: Chairil Anwar


kepada Darmawidjaja

Di pasar baru mereka
Lalu mengada-menggaya.

Mengikat sudah kesal
Tak tahu apa dibuat

Jiwa satu teman lucu
Dalam hidup, dalam tuju.

Gundul diselimuti tebal
Sama segala berbuat-buat.

Tapi kadang pula dapat
Ini renggang terus terapat.

9 Juni 1943

Aku

oleh: Chairil Anwar


Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak
Cumbu-buatan satu biduan
Kujauhi ahli agama serta lembing-katanya.

Aku hidup
Dalam hidup di mata tampak bergerak
Dengan cacar melebar, barah bernanah
Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam
dahaga.

8 Juni 1943

Bercerai

oleh: Chairil Anwar


Kita musti bercerai
Sebelum kicau murai berderai.

Terlalu kita minta pada malam ini.

Benar belum puas serah-menyerah
Darah masih berbusah-busah.

Terlalu kita minta pada malam ini.

Kita musti bercerai
Biar surya ‘kan menembus oleh malam di perisai

Dua benua bakal bentur-membentur.
Merah kesumba jadi putih kapur.

Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambar

7 Juni 1943

Kawanku dan Aku

oleh: Chairil Anwar


kepada L.K. Bohang

Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.

Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.

Siapa berkata?

Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.

Dia bertanya jam berapa!

Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti

5 Juni 1943 

Taman

oleh: Chairil Anwar


Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan 'nusia

Maret 1943

Selasa, 31 Januari 2012

Penerimaan

oleh: Chairil Anwar
Maret 1943

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Lagu Biasa

oleh: Chairil Anwar
Maret 1943

Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.

Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai "Ave Maria"
Kuseret ia ke sana....

Tak Sepadan

oleh: Chairil Anwar
Februari 1943

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka. 

Sia-sia

oleh: Chairil Anwar (versi: Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (Editor))
Februari 1943

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi. 

Pelarian

oleh: Chairil Anwar
(Februari 1943)

I

Tak tertahan lagi
remang miang sengketa di sini

Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.

Hancur-luluh sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.

II

Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
"Mau apa? Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja!"

Tak kuasa---terengkam
Ia dicengkam malam.

Nisan

oleh: Chairil Anwar
(Oktober 1942)

Untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.

Penghidupan

oleh: Chairil Anwar
(Desember 1942)

Lautan maha dalam
mukul dentur selama
nguji tenaga pematang kita

mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
kecil setumpuk
sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk